Ramadhan di Perantauan (2)
Umum October 16th, 2007
Sahur dan Buka Hanya dengan Mie Instant
Puasa di negeri orang tidaklah seenak di negeri sendiri. Terlebih jika puasanya di negeri yang mayoritas bukan muslim. Setidaknya itulah yang dirasakan Lihan, Owner PT Tri Abadi Mandiri Banjarmasin, yang sejak Minggu, 16 September 2007 (bukan 9 September 2007, red) lalu berada di Cina untuk urusan bisnis. Apa suka dukanya? Berikut cerita langsung dari Lihan yang dituliskan kembali oleh Khairil Anwar, wartawan koran ini.
LIHAN, Shanghai
SETELAH seharian berkeliling untuk melihat mesin cetak yang ingin saya beli, kami diantar kembali ke hotel oleh rekan bisnis kami. Tidak berapa lama, sampailah waktu berbuka puasa.
Tapi perlu diketahui, informasi waktu buka puasa itu tak kami dapatkan melalui sirene masjid atau kumandang adzan seperti di Indonesia. Melainkan dari jadwal Imsakiyah yang dikirim seorang teman, Erwin Dede Nugroho melalui sebuah email. Jadwal itu pulalah yang kemudian menjadi patokan kami untuk mengetahui masuk-belumnya waktu Imsak dan waktu-waktu salat lainnya.
Memang, berpuasa di negeri orang tidak seenak berpuasa di negeri sendiri. Apalagi di negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim. Godaannya sangat besar. Di sini, tidak ada satu warung pun yang tutup. Juga, tidak ada aturan untuk tidak boleh makan di siang hari.
Meski begitu bukan berarti kami bisa berbuka atau bersahur dengan menu seenaknya. Jujur, hingga hari kelima di Cina hari ini (kemarin, red), saya beserta dua rekan saya Muhammad Farid Ma’ruf (Presiden Direktur CV Ira Visual Multimedia (anak perusahaan PT Tri Abadi Mandiri yang saya miliki) dan Agus (salah satu pimpinan percetakan di Surabaya) hanya bersahur dan berbuka dengan mie instant plus air mineral. Faktor jaminan kehalalan membuat kami harus berfikir panjang untuk menikmati suguhan-suguhan lezat di negeri Panda ini.
Selama lima hari di sini, kami bertiga pun hanya bisa tarawih berjamaah di kamar hotel. Maklum, di sini sangat langka yang namanya mushala, apalagi masjid. Sehingga tentu saja sangat sulit ditemukan orang yang sedang melaksanakan salat tarawih berjamaah.
Berbicara masalah Cina, pada hari Selasa, 18 September 2007 lalu, kami sempat jalan-jalan ke Kota Suzhou yang letaknya persis di “belakang” Shanghai. Setelah salat subuh, kami berangkat naik taksi menuju stasiun kereta api.
Ketika itu, kami sempat dibuat bingung. Perbedaan penguasaan bahasa kembali menjadi kendala. Alhasil, selama di perjalanan, kami dan sopir taksi hanya menggunakan bahasa isyarat. Termasuk ketika si sopir memberitahukan kalau kami sudah sampai ke stasiun kereta yang kami tuju.
Bahasa isyarat juga terpaksa kami gunakan saat berkomunikasi dengan petugas stasiun. Kami yang saat itu masih menunggu rekan bisnis beberapa kali ditanya petugas stasiun. Setiap ditanya petugas, kami hanya menunjukkan 3 jari lalu 4. Maksudnya, kami baru bertiga, harusnya berempat. Jadi, masih menunggu satu teman lagi baru berangkat.
Setelah semuanya terkumpul, kami pun naik kereta magnet yang kecepatannya mencapai 160 kilometer per jam.
Di Stasiun Kereta Api Pudong, kami dijemput untuk lihat-lihat pabrik mesin. Godaan besar kembali menghampiri kami. Hidangan lezat disuguhkan di atas meja. Ada beraneka macam kue, anggur, pisang, apel, dan buah-buahan lainnya. Yang tak kalah menggoda, kami juga disuguhi teh cina. “Silakan dinikmati,” kata sang manajer perusahaan mempersilakan.
Andai tak puasa, sudah jelas menu-menu itu kami sikat. Namun karena sedang puasa, kami pun harus menjelaskan bahwa kami kami tidak boleh makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenam matahari. “Kalau sedikit saja boleh khan,” tanyanya lagi.
Wah dalam benak saya, ternyata mereka memang benar-benar tak mengenal yang namanya puasa…(bersambung)

; ?>/images/rightsample.jpg)
Alhamdulillah, ana ikut merasakan seperti di Shanghai, terimakasih atas ceritanya.
Kapan nih sambungannya,…
Ustadz Lihan, kapan sambungannya.. Makasih…
ustadz Lihan, selamat atas kesuksesan anda atas amanah yang diberikan Allah. Saya sangat termotivasi sekali untuk bangkit dan berusaha untuk menjadi pengusahan yang sukses seperti anda, tak ada yang takmungkin jika Allah menghendaki : )
kami dari komunitas penyayang kucing mau mengadakan kontes kucing, siapa tau bapak mau jadi sponsornya jadi bisa kita adakan di duta mall.
H.SHADDIQ-CAT TOWN NETWORK
BANJARMASIN CAT LOVER COMMUNITY