Ramadhan di Perantauan (1)
Umum October 16th, 2007
Ketika orang-orang ramai pulang kampung untuk mengisi Ramadhan bersama keluarga, Lihan, Owner PT Tri Abadi Mandiri Banjarmasin, malah bertolak ke Cina untuk suatu urusan bisnis. Dan hingga saat ini, ayah dua anak tersebut masih berada di Cina. Bagaimana suasana Ramadhan di Negeri Panda itu? Berikut tulisan Lihan yang akan dimuat bersambung hingga beberapa hari berikutnya…
Lihan, Sanghai
MINGGU siang, 16 September 2007 lalu, saya bertolak dari Banjarmasin menuju Shanghai untuk suatu urusan bisnis. Karena ada satu dan lain hal yang harus diselesaikan, perjalanan saya awali dengan rute Banjarmasin-Surabaya terlebih dahulu.
Pukul 13.30, saya bertolak dari Bandara Syamsudinor Banjarmasin menuju Surabaya. Selepas Magrib, perjalanan berlanjut menuju Jakarta untuk kemudian terbang ke Shanghai pada pukul 21.50 WIB.
Untuk sampai ke tempat tujuan, kami membutuhkan delapan jam perjalanan udara. Saya mungkin bisa dikatakan “menderita penyakit aneh”. Melewati perjalanan yang cukup panjang itu, saya benar-benar tak bisa tidur barang sejenak. Saya sudah mencoba memejamkan mata, tapi tak juga bisa tertidur. Berbeda dengan dua rekan saya, Muhammad Farid Ma’ruf (Presiden Direktur CV Ira Visual Multimedia, anak perusahaan PT Tri Abadi Mandiri yang saya miliki) dan Agus (salah satu pimpinan percetakan di Surabaya) yang saya lihat tertidur sangat pulas.
Sebelum sampai ke Shanghai, kami terlebih dahulu transit di Bandara Changi Singapura. Kalau saya tak salah ingat, dari Bandara Changi Singapura itu, kami berangkat lagi sekitar pukul empat subuh. Ketika itu, kami diberi hidangan makanan untuk sahur. Perut saya sempat tak menerima makanan itu. Namun, setelah saya paksa, akhirnya habis juga.
Selesai makan, sesuai petunjuk waktu dari pramugari, kami pun melakukan Salat Subuh di pesawat. Kurang lebih satu jam setelah itu, akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Pudong Shanghai, Cina.
Sebenarnya saya sudah sangat letih dengan tidak tidur semalam penuh. Tetapi, semangat untuk melaksanakan tugas, membuat saya tak menghiraukan rasa itu. Di Cina, usai menyelesaikan urusan imigrasi, kami dijemput oleh partner bisnis untuk melihat mesin yang rencana kami beli. Tentu saja, sebelum itu, kami beristirahat sejenak dan mandi di hotel terlebih dahulu.
Satu hal yang membuat saya sedikit tergelitik. Ternyata di Cina, di daerah yang kami singgahi, tak mengenal istilah puasa. Ketika matahari tepat di atas kepala, rekan bisnis kami mengajak makan siang bersama. Sungguh, sangat sulit bagi kami untuk menjelaskan kalau kami sedang berpuasa. Bukan apa-apa, kami lebih pandai menggunakan bahasa Inggris, sedang rekan bisnis kami itu lebih pandai menggunakan bahasa Mandarin.
Setelah beberapa jam, baru mereka mengerti. Itu pun baru setengah. Mereka ngertinya kalau puasa itu hanya menahan makan. Alhasil, berhenti menawari makan setelah berulang kali, mereka malah menawari kami untuk minum.
Dengan masih menggunakan bahasa Inggris, saya pun kemudian mengatakan bahwa puasa itu tak boleh makan juga tak boleh minum. Mendengar penjelasan dari saya itu, rekan bisnis kami malah kaget dan berkata “Do you feel hungry?” Saya jawab, memang lapar. Tapi, puasa itu saya bilang, merupakan kewajiban setiap muslim di bulan Ramadhan. Tujuannya, untuk turut merasakan penderitaan sesama yang kehidupannya tak berpunya. Mendengar itu, mereka tampak terkagum-kagum. (bersambung)

; ?>/images/rightsample.jpg)
Assalamu”alaikum wr.wb.
Pak Ust.Lihan Yth.
Pertama kali saya melihat dan ketemu Bapak pd acara Lounching Flexi Kun fayakun..sy tak kuasa meneteskan air mata ketika Pak Ust di panggil Ust Yusuf Mansyur kedepan bahwa Ust Lihan Setiap bulan sodakaoh 1 M…dlm hati sy di jaman skrg kok ya msh ada orang seperti ini…selamat ya Pak ust lihan dan do’akan semoga sy bs mengikuti jejak Ust Lihan…
wasalam
Suripto/Riau pos
Assalamu’alaikum..
Sukses ustadz, mudahan saya bisa seperti antum. sekarang saya juga lagi menjalankan bisnis cuci motor dan refleksi “assoy geboy”. pekerjanya cuman 5 orang mudahan kalau Allah berkehendak bisa nambah jadi 50 orang amin…
Assalamualaikum wr wb
setelah m
saya membaca buku bapak, saya terharu dan banggga
karena sebagai pengusaha sukses yang memikirkan karyawannya,saya berharap dapat bergabung menjadi karyawan pada perusahaan bapak,
salam
Assalamu,alaikum..
wah Pak Ustadz, saya bangga sekali dengan perjuangannya!walo cuma tau garis besarnya saja,semoga tetap bisa seperti sekarang.Amin..
Assalamu alaikum…
Pa Ustad Lihan yg ulun hormati, ulun dangar pian ada membuka usaha bidang kuliner di Makassar.
Ulun sbgai urang banua yg merantau di Makassar beisi usaha jua, usaha ulun kaya pasar cahaya bumi selamat yg ada di Martapura.
Tapi halus aja pang, kd ky diwadah kita.
ulun 1 bulan lalu ada mengirim proposal, tapi mungkin pian lg sibuk jd msh kdd wktu melihat proposal ulun.
Usaha ulun sdh lumayan lawas, tapi ky itu2 jua, sebanding aja pang sbujurnya wan modal ulun, tapi Alhamdulillah ulun bersyukur dgn rejki Allah SWT.
tapi yg ngarannya kt pedagang, handak jua ky pian,yg hidup berkecukupan dan kw membantu urg2 yg membutuhkan.
Ibarat kata, ulun berdoa wan usahanya ada, Insya Allah mun Tuhan memberi jalan,pian wan ulun kw bekerjasama atas prinsip Syariah Islam.
Kiranya pian memaafkan atas kata2 ulun, mun ada yg kd menyaman akan dihati pian,komentar ulun ini salah satu bentuk usaha ulun gsan mengembangkan usaha yg sdh dirintis.
Semoga Allah SWT menjodohakan tawaran kerjasama ulun ini wan pian, Amin.
ini email ulun : adip_muslim@rocketmail.com
ini nmr hp ulun: 0411-2498949
ulun hrap pian kw meluangkan wktu sdikit gsan sggah ke email ato nmr hp ulun
Demikian secercah kata hati ulun, lwt blog pian yg ulun tahu dari media.
trima kasih atas wktu dan perhatian pian.
Wassalam…